#top-social-profiles{height:42px;text-align:right}#top-social-profiles img{margin:0 6px 0 0px !important} #top-social-profiles img:hover{opacity:0.8} #top-social-profiles .widget-container{background:none;padding:0;border:0} .social-profiles-widget img{margin:0 6px 0 0} .social-profiles-widget img:hover{opacity:0.8}

Selasa, 13 Februari 2018

Bola kaca dan pohon

Hanya sebuah cerita
By Nurullia wahda
*ketika anak sespesies gue ngarang cerita *
·
·
·
Pada suatu hari,
Sebuah bola kaca menggelinding
Mencoba berkeliling.
Hingga tak sengaja tiba di sebuah pohon yang lebih rendah dari pohon lainnya.
·
Namun pohon tetaplah pohon, ia tak akan serendah perdu.
Tapi tetap tampak nyaman untuk berteduh
Pohon itu memiliki 2 sulur indah
Yang teruntai menyentuh tanah.
·
Pohon tersenyum pada bola kaca bagai malaikat
Bola kaca yang besarnya bagai Sang Pohon dibagi empat.
·
Pohon dan bola kaca saling berbalas kata
Mengabaikan peringatan juga tatapan
Pohon lain, bola lain bahkan bisikan angin
Apapun yang mereka sebut pihak lain
Yang di luar dari lingkaran yang mereka ciptakan entah sejak kapan.
·
Membuat bola kaca terus ingin meneduhi tanpa harus disudahi.
Tanpa alasan gemuruh rerintik
Atau sekedar karena terik
Bola kaca bersikukuh untuk tetap berteduh.
·
Sang Pohon menawarkan bola kaca Agar mendekat pada sulurnya
Membiarkan sulurnya menggeliat
Lalu memeluknya dengan hangat
Menjanjikan kebahagiaan
Entah sebuah bayangan atau semata akan menjadi angan
·
Awalnya bola kaca enggan,
Namun ia penasaran
Ia tahu, ia rentan
Akan goresan bahkan pecahan
·
Mungkin hanya karena lingkaran
Yang entah kapan terciptakan
Membuat bola kaca tak lagi enggan.
·
Sulur pohon mulai membalut
Tubuh bola kaca dengan lembut.
Bola kaca terangkat lalu tergantung
Melihat indahnya pemandangan gunung
Yang membuatnya merasa beruntung.
·
Sesekali pohon mengayunkan sulurnya perlahan.
Menepati janji yang ia katakan.
·
Tapi pohon tak pernah menjanjikan hal lain selain kebahagiaan.
Tak pernah menjanjikan rasa takut.
Yang membuatnya menjadi kalut.
Tapi pohon memberikannya
Sang Pohon begitu 'baiknya'
·
Sang pohon sesekali
Mengangkat bola kaca lebih tinggi.
Berharap bola kaca merasakan hangat dedaunannya.
·
Tak ingin bola kaca terlepas dari sulur dan menggelinding menjauh mundur.
Bola kaca sudah merasakan hangat diantara sulur yang mengikat
·
Tapi semakin jauh,
Bola kaca semakin takut
Akan semakin sakitnya 'jatuh'.
·
Takut terlepas dari Sang Pohon yang kukuh
Tapi Sang Pohon tak pernah peluh
Tetap memeluk bola kaca yang kadang ricuh
·
Hari berganti hari,
Bola kaca merasa nyaman di sulur,
Sang Pohon melepas sulur
Tapi sepasang sulur menjulur
Menangkapnya sebelum jatuh tersungkur
Sulur pohon yang sama
Yang menjatuhkannya juga
Entah apa inginnya
·
Ketika bola kaca bertanya
Pohon tak berkata kata
Hanya sebuah senyum diwajah
Seolah berkata tak perlu resah
·
Bola kaca hanya terhenyuh
Ia memang tak jatuh
Tapi ia tetaplah rapuh
Tak hanya menimbulkan goresan
Tapi tak juga pecahan
Melainkan sebuah retakan
·
Retak pada kaca beda sobek pada kertas
Kaca adalah kaca
·
Bola kaca lebih senang jika sulur turun menjulur seiring alur
Bukan tanpa aba aba melepas
Membuatnya tiba tiba terhempas
·
Sang pohon berlaku demikian untuk yang kesekian
Tapi bola kaca terlanjur nyaman
Pada sulur yang tak lagi aman
·
Bahkan ketika sulur tak begitu mengikat
Bola kaca tak mau melompat
Sulur menjulur mendekat tanah
Tapi bola kaca tak ingin pindah
·
Bola kaca kini penuh gores dan retakan
Berada pada sulur renggang yang dianggapnya pelukan.
·
Tamat.
~·♡·~·♡·~·♡·~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar